Larangan Berjudi dalam Islam dan Hukuman Bagi Pelakunya

Larangan Berjudi dalam Islam dan Hukuman Bagi Pelakunya

180.215.13.119 – Dalam Islam perjudian merupakan hal yang dilarang. Hal ini disebabkan judi bisa menimbulkan perasaan mencintai harta secara berlebih yang dapat membuat seseorang melupakan fitrahnya sebagai manusia. Salah satu ciri orang yang mencintai hartanya adalah terus menimbun harta dan menambahnya dengan cara yang tidak baik, salah satu cara tercela untuk menambahnya adalah dengan melakukan judi.

Di dalam al-Quran, kitab suci umat Islam, larangan berjudi disebutkan beberapa kali. Misalnya di dalam al-Quran pada surat al-Baqarah serta surat al-Maidah, di dalamnya Anda akan menemukan larangan judi yang disandingkan dengan perbuatan tercela lainnya, seperti mencuri, berzina, dan menyekutukan Allah dengan menyembah berhala.

Penyandingan dengan berbagai perbuatan tercela tersebut merupakan salah satu larangan berjudi dalam Islam yang sering ditemui. Misalnya pada surat al-Baqarah ayat 219, yang di dalamnya judi disandingkan dengan larangan untuk mengkonsumsi khamr atau minuman keras. Di dalam ayat tersebut juga ditekankan bahwa di dalam aktifitas judi terdapat berbagai madharat yang menyertainya.

Alasan Islam Melarang Perjudian

Perjudian 180.215.13.119 yang dilakukan umat muslim, baik dilakukan secara daring ataupun konvensional tetap tidak boleh dilakukan. Allah sendiri menekankan larangan judi karena akibat yang di timbulkannya buruk untuk manusia. Misalkan saja, seorang muslim memenangkan permainan judi, kemudian memberikan uang hasil kemenagannya tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka apa yang mereka konsumsi dan gunakan dari uang tersebut tidak berkah.

Selain itu, manfaat yang dapat diambil dari uang hasil judi juga sedikit, dan lebih banyak efek negatifnya. Hal tersebut akan terlihat ketika seseoang kemudian kecanduan bermain judi dan mulai mengadaikan uangnya untuk bertaruh. Kerusakan pada pribadi dan agama yang dimiliki oleh muslim tersebut akan tergadaikan dengan kesenangan semata.

Hal yang sama bisa Anda temui di surat al-Maidah ayat 90, yang menerangkan bahwa judi, meminum khamr, serta melakukan perundian nasib dengan anak panah, disandingkan dengan larangan untuk berkorban kepada berhala. Hal ini menjadi tanda bahwa larangan berjudi dalam Islam memiliki resiko yang cukup besar dan termasuk dalam perbuatan syetan.

Makna Judi dalam Islam

Berbagai ulama memberikan pengertian mengenai judi, diantaranya dalah Ibu Hajar al-Makki, di dalam kitabnya yang berjudul az zawajir an iqtirafil kaba’ir. Ia menjelaskan judi sebagai pengertian dari maisir, sebutan judi dalam bahasa Arab yang berarti segala jenis taruhan. Sehingga, jika merunut pengertian tersebut, semua taruhan yang dilakukan merupakan hal yang haram.

Sedangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul al-majmu’ al fatawa, menerangkan bahwa maisir memiliki makna yang lebih luas. Menurut mayoritas ulama, permainan kartu ataupun catur yang tidak memiliki taruhan, jual beli yang tersembunyi dilarang oleh Nabi saw karena mengadung qimar termasuk bagian kecil maisir.

Qimar merupakan sebutan lain untuk melakukan judi dalam agama Islam dan memiliki pemaknaan yang hampir sama dengan maisir. Dalam pengertian bahasanya, qimar memiliki arti terambilnya harta yang dimiliki oleh orang lain dengan konsep untung-untungan, yakni memungkinkan untuk di dapatkan dan tidak. Pengertian ini juga menjadi dasar larangan berjudi dalam Islam karena merupakan permainan yang tidak adil, sebab hanya menguntungkan satu pihak saja.

Di dalam kebudayaan dan kultur Arab, qimar biasanya ditemui pada seseorang yang membawa lari budak yang kabur dari majikannya, membawa unta yang terlepas dari kawanan, menjual binatang yang masih dalam kandungan, serta berbagai hal lain yang bisa di dapatkan, namun kemungkinan untuk tidak mendapatkannya juga besar.

Larangan Melakukan Judi dan Hukumannya dalam Islam

Karena termasuk dalam perbuatan yang menimbulkan dosa, menjauhi perbuatan ini wajib hukumnya sebagai pemeluk agama Islam. Alasan pelarangan ini bisa Anda temukan di surat al-Maidah ayat 91, yang menyatakan bahwa perjudian dan minum minuman keras bisa membuat permusuhan muncul.

Aktifitas tersebut juga bisa membuat seseorang lalai terhadap tugasnya untuk mengingat Allah, dengan melupakan aktifitas ibadah dan berdoa kepada-Nya. Di akhir surat tersebut juga terlihat bahwa larangan  berjudi dalam Islam tidak hanya berupa himbauan, namun dengan nada perintah yang menganjurkan manusia untuk berhenti melakukan aktifitas tersebut.

Seseorang yang mengajak orang lain untuk melakukan judi juga mendapatkan hukuman, yakni dengan membayar kaffah atau penebus dosa. Hal tersebut dijelaskan dalam hadist yang di riwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dimana mereka yang mengucapkan ‘mari berjudi’ kepada orang lain hendaknya memberikan shadaqah sebagai bentuk dari kaffah.

Dalam Islam, seseorang yang melanggar ketentuan ini, termasuk judi dan minuman keras, biasanya diserahkan kepada pemerintah untuk memberikan hukuman. Jadi terlepas dari dosa yang mereka terima, penjudi juga mendapatkan hukuman fisik, biasanya berupa cambuk atau hukuman penjara. Di Indonesia sendiri, penjudi dikenai denda dan di hukum penjara sesuai peraturan yang ada di undang-undang.

Hal yang agak berbeda terjadi di Aceh, disana penjudi di hukum menggunakan cambuk dan harus membayar denda sebesar 2 gram emas. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menjalankan syariat Islam sebagai peraturan di daerahnya, hal ini disebabkan banyak muslim yang mayoritas tinggal di Aceh dan menjadikan al-Quran dan hadits sebagai dasar peraturan.

Itulah penjelasan singkat mengenai larangan berjudi dalam Islam. Penjelasan yang lebih lengkap mengenai perjudian bisa Anda dapatkan dengan memperlajari buku fiqh ataupun bertanya kepada mereka yang memahami hadist dan al-Quran dengan baik. Indonesia merupakan negara yang melarang adanya perjudian, senada dengan Islam dan berbagai agama lainnya.  

Leave a Reply

Back to Top